Keping-154|Perikardia [Ulasan Buku]

Penulis : dr. Gia Pratama
Cetakan I : November 2019
ISBN : 978-602-418-194-9
Halaman : 325 hlm + 9 (lampiran)
Penerbit : Mizania (PT. Mizan Pustaka)
Ulasan :

Perikardia, dibuka dengan kisah penanganan pasien yang mengalami serangan jantung di IGD sebuah rumah sakit. Kisah pembuka ini menuntun pada kilas balik dr. Gia ketika menjalani masa-masa koas di RSUD Garut– yang menjadi inti cerita dari buku ini. Kisah-kisah yang terjadi di RSUD Garut sendiri bermula dari pengundian lokasi untuk menjalani program koas. Penulis yang berlatar belakang sebagai anak rumahan, tidak pandai bergaul, bahkan bagai kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), tentu berharap mendapatkan lokasi di Jakarta saja. Namun, kenyataan justru mengajaknya “berpetualang” untuk mengumpulkan ilmu dan pengalaman di kota lain. Dan Garut yang ditakdirkan menjadi latar tempat dalam perjalanannya meraih gelar dokter.

Buku bersampul merah ini banyak bercerita tentang keseharian penulis dalam melaksanakan tugas di setiap stase dengan segala kerumitannya. Entah itu kerumitan dalam menangani pasien, maupun kerumitan kisah percintaan yang berakhir tidak indah. Padahal ada Indah yang selalu menanti perhatiannya. Banyak ilmu mengenai kesehatan dan kedokteran yang tentunya selalu mengiringi setiap episode yang dibagikan, dan pastinya dikemas dengan bahasa yang bisa dimengerti pembaca. Salah satunya dengan memberikan catatan kaki yang cukup lengkap.

Salah satu kisah yang paling menarik menurutku adalah ketika dr. Gia menjalani tugas di stase forensik. Di bagian ini kita diingatkan tentang hal-hal yang tidak terlihat. Bukan sekedar yang berhubungan dengan hal mistis seperti ruh dan makhluk halus, tetapi hal tak terlihat lainnya seperti fakta dari sebuah kasus. Secara kasat mata, kita mungkin menyimpulkan bahwa kasus tersebut adalah bunuh diri, misalnya. Namun, setelah dicermati secara detail bisa jadi kasus tersebut adalah pembunuhan. Kisah lainnya yang membuatku ikut menahan nafas adalah kisah ketika menangani pasien wanita yang rahimnya tercerabut keluar. Gambaran luar biasa dari perjuangan tim dokter memperbaiki “isi perut” serta melukiskan wanita yang kuat bertahan hidup.

Alur cerita dalam buku ini maju mundur. Setiap babnya diawali menceritakan kehidupan setelah menikah yang akhirnya membawa ingatan penulis pada masa lalu. Dan hampir setiap akan menceritakan kisah di masa lalu, diawali dengan kalimat “Saya jadi teringat…” sehingga menurutku menimbulkan kesan kaku ketika membawa pembaca kembali ke masa lalu. Namun, hal itu tidak mengurangi keasyikan membaca setiap babaknya.

Perikardia, menurutku sarat dengan hikmah. Tidak sekedar berisi tentang ilmu kesehatan yang secara tidak langsung membuat kita lebih mengenal sama tubuh kita sehingga akhirnya bisa menyayangi diri sendiri. Lebih dari itu kita juga bisa mengambil hikmah dari perjalanan “diri” penulis. Bagaimana penulis yang sama sekali tidak bercita-cita menjadi dokter, selalu berada di zona nyamannya, justru mendapat pelajaran berharga dan menakjubkan sehingga bisa “merubah” kehidupannya.

Penulis menyajikan kisahnya dengan bahasa yang sederhana. Sapaan loe-gue yang menjadi ciri khas komunikasi anak ibu kota dipadukan dengan bahasa sunda yang halus juga menjadi daya tarik tersendiri.

Untuk kamu yang bercita-cita menjadi dokter, buku ini bisa sedikit menjadi gambaran bagaimana suka duka dalam meraih gelar dokter. Bukan sekedar lulus dan menyematkan gelar, tetapi harus disertai dengan jiwa yang ikhlas menolong sesama.

Keping-153|Saipeh – Sandal Jepit kan Membawamu ke Jogja [ulasan Buku]

Judul buku : Saipeh – Sandal Jepit kan Membawamu ke Jogja
Penulis : Yuni Astuti
Cetakan I : April 2013
ISBN : 978-602-255-083-9
Halaman : 195 hlm
Penerbit : PING!!!
Ulasan :

Saipeh, panggilan akrab gadis pencinta warna ungu. Ia juga merupakan seorang perempuan yang dikenal dengan fashion yang membuat “sakit mata”.  Bagaimana tidak, ia sering kali memadukan pakaian dan kerudungnya dengan warna yang bertabrakan. Belum lagi sendal jepit swallow yang selalu menemani ke mana pun ia pergi.

Saipeh dan sendal jepit ungunya adalah inti dari cerita di buku ini. Sosok akhwat yang jauh dari kata anggun ini tidak bisa lepas dari sendal jepit. Berkat sendal jepitnya itu, ia pernah dikeluarkan dari salah satu kelas mata kuliah. Namun, dengan sendal jepitnya itu juga ia menjelajahi Jogja bersama teman-temannya. Konon, ia juga pernah bermimpi kalau sendal jepitnya itu yang kelak mempertemukannya dengan seorang pangeran berkuda.

Buku ini sederhana, karena memang merupakan buku remaja. Semua yang terangkum dalam buku ini benar-benar ringan. Mulai dari alurnya yang mengalir tentang bagaimana si gadis sendal jepit melalui hari-harinya menggunakan alas kaki kesayangan, bahasa yang gunakan pun menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak baku, baik dari dialog maupun narasinya. Konflik? Tentu saja kita tidak boleh berharap akan disajikan konflik yang semerawut. Kesederhanaan buku ini memberikan satu pesan, bahwa sebagai seorang perempuan kita tidak boleh berpenampilan berlebihan hanya untuk menarik perhatian orang lain, terutama lawan jenis. Namun, kita juga harus bisa berpenampilan yang “benar” sesuai dengan situasi dan kondisi.