38 | Pasangan Jagat Raya

Segala sesuatu yang menjadi takdir kita tak begitu saja hadir dalam hidup. Ada pesan yang tentunya ingin disampaikanNya kepada kita. Entah itu pujian atau ujian, apakah kabar gembira atau sebuah teguran. Keduanya bisa jadi satu kesatuan.

Ketika kita sakit contohnya, kebanyakan di antara kita ada yang melebelinya dengan musibah atau ujian. Itu tidak salah. Namun, sejenak kita semestinya meraba diri. Melihat kembali perjalanan yang baru saja kita tempuh. Bisa jadi sakit yang kita dapatkan saat ini adalah sebuah bentuk teguran dariNya.

Saat kaki kita sakit misalnya, coba kita ingat kembali –selain kita obati fisiknya-, sempat digunakan untuk melangkah ke mana kaki itu? Adakah langkahnya yang mungkin membuatNya sedikit kesal? Atau saat bibir atau lidah kita mendapat sariawan, adakah setiap kata yang sempat terucap menjadi sebuah belati bagi pendengarnya? Atau bahkan mungkin lisan itu lupa menyampaikan kebenaran?

Di lain kondisi, misalnya kita diberikan “anugerah” berupa materi yang melimpah, gelar akademik yang berderet di belakang nama kita, jabatan yang bertingkat. Namun dengan semua itu, kita justru lupa siapa diri kita, kita lupa memberikan hak para mustahik, kita merasa tinggi bahkan merendahkan orang lain. Apakah hal itu menjadi anugerah bagi kita?

Sabar dan syukur. Pasagan di jagat raya yang menjadi kunci ketenangan dalam hidup. Sabar bukan berarti berdiam diri begitu saja. namun, hisablah diri kita, kemudian tobatilah, lalu bersyukurlah. Mengapa? Karena itu adalah bentuk kepedulianNya. Ketika sakit yang hadir sebagai ujian, itu tandanya kita akan sampai pada level selanjutnya, ketika itu adalah teguran, itu berarti Dia ingin kita memperbaiki diri selagi Dia membuka pintu taubat seluas-luasnya. Bukankah itu adalah sesuatu yang harus kita syukuri?? Maka, saat kita menempuh prosesnya, benarlah sakitnya akan menjadi penggugur dosa baginya.

Bersyukur dan bersabar, dua hal yang Allah sandingkan sabagai salah satu indikator seorang muslim. Bersyukur adalah bukti dari sabarnya kita atas setiap ketetapanNya atas diri kita. Sabar adalah wujud syukur atas apa yang diberikanNya kepada kita.

Bersyukur atas apa yang mungkin kita pandang musibah dan bersabar atas apa yang kita nilai itu anugrah… Mengapa? Karna kadang kita rabun terhadap apa yang kita lihat, netra kita terbatas memotret hikmah. Kadang pula nalar kita terlalu sempit mendefinisikan apa itu musibah dan anugerah.

Maka bersyukur dan bersabarlah terhadap apa yang diberikanNya… Keduanya satu paket, tidak bisa dipisahkan. Keduanya akan menuntun kita menjadi insan yang mulia.

[]

Wallahuálam

Advertisements

37 | ketika

Ketika waktu menyeret nalar menatap realita, mengajak kita membuka mata bahwa tak semua premis berlaku silogisme untuk membuat konklusi

Ketika diam yang mampu mendefinisikan jutaan aksara yang berlarian dalam kepala
Ketika hanya senyap yang sanggup mengartikan ribuan diksi yang beterbangan dalam angan
Maka saat itulah segala rasa terendap, menyisakan sebentuk sabar yang harus dipaksa tereja

*Sebenarnya sedang tak tahu harus menulis apa.. Hanya sedang ingin menumpah ruahkan rasa yang sedang tak terdefinisi…

🙈😁

36|Seuntai Pesan dari Selembar Undangan

Tulisan ini dikutip dari sebuah undangan yang diterima di bulan Oktober 2014. Satu-satunya undangan pernikahan yang masih saya simpan sampai hari ini. Alasannya tidak lain karena saya suka dengan isi tulisannya. Untaian pesan yang sangat cantik. Sangat berbeda dari undangan pada umumnya.

Kemarin, ketika edisi bers-beres, selembar undangan itu ditemukan lagi. Jadi biar tulisannya tetap abadi, jadi saya ketik ulang dan simpan di sini. Saya tidak bisa menuliskan nama penulisnya, karena memang tidak dicantumkan di undangannya.

Ini penampakan undangannya

[]

Untuk calon suami sholeh,

Jangan kau menginginkan menjadi raja dalam istanamu. Disambut isteri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika ini yang kaku lakukan, istanamu tidak akan langgeng.

Lihatlah Manusia teragung sepanjang sejarah, Muhammad SAW tidak marah ketika harus tidur di luar beralaskan sorban, karena sang isteri tidak mendengar kedatangan beliau. Tetap tersenyum, meski tak tersedia makanan di hadapan ketika lapar. Menjahit bajunya yang robek.

Janganlah engkau terlalu cinta pada isterimu. Jangan engkau terlalu menuruti isterimu. Jika engkau lakukan, akan celaka. Engkau tidak akan melihat hitam dan putih, tidak akan dapat melihat benar dan salah.

Lihatlah bagaimana Allah menegur Nabimu ketika mengharamkan apa yang telah Allah halalkan hanya karena menuruti kemauan isteri. Tegaslah terhadap isterimu.

Dengan cintamu, ajaklah ia taat kepada Allah. Jangan biarkan ia dengan kehendaknya. Lihatlah isteri Nuh dan Luth. Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang, isterimu menjadi musuhmu. Didiklah isterimu, jadikanlah ia sebagai Hajar, wanita utama yang setia terhadap tugas suami, Ibrahim. Jadikan ia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya. Jadikan ia Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi tugas suami, Muhammad SAW menerima tugas risalah. Isterimu tanggung jawabmu. Jangan larang mereka untuk taat kepada Allah. Biarkan ia giat berdakwah kepada kaumnya untuk menyegerakan tegaknya kembali kalimahNya. Biarkan ia menjadi wanita yang sholehah yang senantiasa mengokohkan dakwahmu dan dakwahnya. Tegur ia tatkala ia lalai menjalankan amanahnya. Biarkan ia menjadi Hajar, Maryam, atau bahkan Kahdijah. Sungguh jangan kau belenggu dengan egomu.

Untuk calon isteri sholehah…

Jika engkau menjadi isteri, janganlah engkau ingin menjadi ratu dalam istanamu. Disayang, dimanja, dan dilayani oleh suamimu. Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu. Jika itu engkau lakukan, istanamu akan menjadi neraka bagimu. Jangan engkau paksa suamimu menurutimu. Jangan engkau paksa suamimu melanggar perintah Allah dan RasulNya. Siapkan dirimu menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami. Siapkan dirimu menjadi Maryam, yang senantiasa menjaga kehormatannya. Siapkan dirimu menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami tercinta menjalankan misi dakwahnya. Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu. Jangan kau usik suamimu dengan tangismu. Jika itu kau salah gunakan, kecintaannya padamu yang begitu besar akan memaksanya menjadi pendurhaka.

Untuk suami, renungkanlah…

Pernikahan menyingkap tabir rahasia. Isteri yang kamu nikahi tidak semulia Khadijah, tidak setaqwa Aisyah, dan tidak setabah Fatimah, justeru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang bercita-cita menjadi sholehah.

Pernikahan menyadarkan kewajban bersama. Isterimu menjadi tanah, kamu langit penaungnya. Isterimu lading tanaman, kamu pemagarnya. Isterimu ibarat ternak, kamu penggembalanya.Isterimu adalah murid, kamu mursyidnya. Isteri bagaikan anak kecil, kamu tempatnya bermanja dan berkeluh kesah. Dan ketika isteri menjadi racun, kamulah penawarnya. Seandainya isteri tulang yang bengkok, maka hati-hatilah meluruskannya.

Pernikahan menginsyafkan kita perlunya keimanan dan ketaqwaan. Untuk belajar meniti Ridho Allah SWT. Karena memiliki yang tak sehebat mana, justru kamu akan tersentak alpa. Kamu bukanlah Rasulullah SAW, dan buka Sayyidina Ali Karamallahuwajhah. Cuma suami akhir zaman yang mencoba menjadi sholeh.

Untuk isteri, renungkanlah…

Pernikahan menyingkap tabir rahasia. Suami yang menikahimu tidak semulia Muhammad SAW, tidak setaqwa Ibrahim As, pun tidak setabah Ayub AS, apalagi setampan Yusuf AS. Justru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita-cita membangun keturunan sholeh.

Pernikahan menyadarkan akan kewajiban bersama. Suami pelindung, kamu penghuninya. Suami adalah nahkoda kapal, dan kamu pengemudinya. Saat suami seorang raja, kamu dapat merasakan anggur singgasananya. Dan ketika suami menjadi racun, kamulah penawarnya. Sungguh, tatkala suami sebagai inti jantung keluarga, maka kamulah rusuk pelindungnya. Seandainya suami bengis dan lancing, maka berhati-hatilah meluruskannya…

Pernikahan menginsyafkan kita perlunya keimanan dan ketaqwaan. Untuk meniti ridho Allah SWT. Karena memiliki suami yang tak sehebat mana, justru kamu akan tersentak alpa. Kamu bukanlah Khadijah yang sempurna menjaga, pun bukan Hajar yang setia dalam sengsara. Cuma wanita akhir zaman yang mencoba unttuk menjadi isteri sholehah.

35|Perjalanan Tanpa Jalan Kembali

Beberapa tahun terakhir, salah satu aktifitas saya adalah mengajar privat. Saat itu, ada 3 siswa yang saya tangani dengan lokasi rumah yang berbeda-beda. Salah satu lokasinya di daerah Cicaheum ke atas. Ada beberapa tanjakkan yang harus dilalui untuk sampai ke rumahnya. Ada yang cukup terjal, panjang, bahkan dengan kondisi yang berlubang hampir di sepanjang jalannya. Saya pun pernah mengalami terjatuh di salah satu tanjakkannya karena tak sempat menghindar dari lubang tersebut.

Suatu hari Rabu itu, tepat di akhir bulan Januari, untuk pertama kalinya saya ke sana tanpa di temani si biru –motor vega biru– kesayangan. Saat itu, dia sedang berada dalam mood ngambeknya, harus sedikit dipaksakan untuk mau berjalan. Namun, dengan saya -yang juga dalam kondisi manja- malas untuk membujuknya untuk kembali bersuara. Alhasil, saya membiarkannya untuk beristirahat sejenak, sambil menunggu “jajanan”nya yang belum didapatkan dari toko spare part.

Banyak hal yang akhirnya saya dapatkan, ketika kembali menjalani aktifitas dengan menggunakan transportasi umum. Rasanya beragam, seperti permen nano-nano mungkin. Dari sekian banyak rasa yang terselip, perjalanan hari Rabu itu, memberikan saya hikmah lebih banyak. Mengingatkan kembali pada apa yang mungkin sempat terlupa. Menyadarkan kembali pada apa yang mungkin sempat “tidak dipedulikan”. Bukan tidak peduli yang benar-benar tidak peduli, hanya saja tidak benar-benar direnungi, dipahami, hingga terefleksi kembali.

Ok, sedikit bercerita mengenai perjalanan hari itu. Tepatnya perjalanan malam setelah selesai mengajar. Pukul 19.30 WIB, saat saya harus turun dari lokasi rumahnya. Di sekitar komplek rumahnya tidak ada pangkalan ojek, yang melintas pun tak ada. Namun, untuk memesan ojek online pun harus ekstra bersabar karena daerah tersebut termasuk dalam zona merah bagi para drivernya. Sehingga tidak banyak yang mau menerima ordernya. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan kaki dengan harapan diperjalanan ada ojek yang juga akan turun. Dengan sedikit cemas saya mengurai langkah. Sedikit bersyukur, karena malam itu sedang terjadi gerhana bulan total, bahkan katanya gerhana bulan malam itu disebut sebagai Super Blue Blood Moon, yaitu gabungan dari tiga fenomena bulan dalam satu waktu, ‘Supermoon’, karena bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, sehingga tampak beberapa persen lebih besar dan lebih terang dari biasanya, sedangkan ‘Blue Moon’ adalah julukan bagi purnama yang muncul kedua kali dalam satu bulan kalender dan fenomena yang ketiga adalah gerhana bulan, yaitu kondisi ketika  matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis sejajar, sehingga suasana malam itu diselimuti takbir dari setiap sudut.

Di sepanjang jalanan yang menurun itu, tidak ada satu pun lampu yang berdiri menyinari jalan. Penerangan di sana hanya berasal dari beberapa rumah saja itu pun agak jauh dari tepi jalan, selebihnya hanya rumput-rumput yang siap bersaing ketinggian dengan pepohonan.  Terbayang kondisinya? Ya, cukup gelap. Sebelum malam itu, saya tidak benar-benar peduli dengan suasana seperti itu. tidak ada perasaan khawatir selebay malam itu, mungkin karena sebelumnya saya menghabiskan satu turunan hanya cukup beberapa menit saja menggunakan motor lengkap dengan lampu depannya meski sedikit redup. Sedangkan malam itu, harus ditempuh dengan berjalan seorang diri.

Karena sekeliling cukup gelap, maka pemandangan malam terlihat cukup indah. Bukan gerhana penyebabnya, karena malam itu, ditemani gerimis sehingga awal hitam menutupi fenomena yang telah dinantikan banyak orang untuk disaksikan langsung. Keindahannya berasal dari kerlipan lampu dari rumah-rumah serta gedung-gedung yang berjarak cukup jauh. Saya menyebutnya “kunang-kunang kota”. Namun tetap saja, keindahan itu tak cukup mampu mengusir rasa khawatir. Bukan takut pada makhluk-makhluk tak kasat mata yang kisahnya sering mampir di telinga, tetapi ketakutan itu justru pada manusia-manusia yang tak takut pada Rabb-nya. Pada hal-hal yang tak diinginkan yang mungkin saja ditakdirkan terjadi saat itu. Meski akhirnya bersyukur, Allah masih memberikan perlindunganNya hingga saat ini.

Di sepanjang perjalanan itu, di antara rasa cemas yang singgah, alam mengajak saya berpikir. Malam membawa saya kembali tersadar, dan hal itu justru membuat saya semakin khawatir. Bukan lagi sekedar khawatir apakah saya sampai rumah dengan selamat, namun apakah saya akan selamat ketika sampai di “rumah”Nya? Perjalanan yang hanya ratusan meter saja dengan kondisi jalanan gelap telah membuat nyali sediki menciut, bagaimana dengan perjalanan hidup di dunia?

Dunia ini adalah rute perjalanan yang harus kita lalui. Tak ada satu makhluk pun yang mengetahui kondisi jalanan ini. Tidak ada yang pernah melaluinya untuk kedua kali, sehingga perjalanan ini seolah tanpa jalan kembali. Maka kita tidak tahu, apakah jalan yang kita tempuh ini akan membawa kita mendekat kepadaNya atau justru menyeret kita semakin menjauh?

Dunia ini gelap, maka Dia berikan penerangnya. Dia Maha Tahu, bahwa manusia akan kebingungan menempuh arahnya, maka Dia berikan petunjuknya, Dia utus penunjuk jalannya [48:28].

Mungkin, di antara gelap itu kita melihat keindahan. Menyaksikan kerlip bintang pada hamparan langit yang gulita. Menatap bulan yang juga benderang. Namun, bagaimana pun dunia ini hanyalah jalan. Bukan tempat kita bermukim. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Seindah, senyaman dan sebetah apapun, pada akhirnya kita tetap harus kembali. Entah dengan kesadaran, maupun dengan paksaan. Janganlah terlena. Bintang yang berkerlip itu bukan di dunia, bulan yang benderang itu bukan di tempat yang kita pijak saat ini. Kita harus sadar akan “rumah” tempat kita pulang. Maka, seseorang yang ingin selamat, akan mencari teman untuk menyertai perjalanannya. Untuk mengingatkannya ketika ia terlalu asyik menikmati “pemandangan” yang indah namun semu. Menuntunnya untuk menempuh kembali rute yang benar.

wallahuálam…

[]

Bandung, 31 Januari 2018

Ketika gerimis menghalangi keindahan Super Blue Blood Moon

di sepanjang jalan Jatihandap

34|Ketika Selembar Foto Bercerita

Sebenarnya ini tulisan lama yang bersarang di folder laptop. Masih dalam rangka menyusuri ingatan beberapa tahun ke belakang. Kembali memungut hikmah atas perjalanan yang telah dilalui. Kita tak dapat memilih hidup kita selalu manis. Karena menikmati yang manis secara terus menerus pun tidak baik bagi kesehatan bukan? dan yang pahit bukan berarti tak dapat dinikmati kan?  Bahkan rasa gurih pun adalah komposisi sempurna dari manis dan asin. 😀

Continue reading “34|Ketika Selembar Foto Bercerita”

33 | Memahat Jejak

Penghujung Desember. Sudah menjadi kebiasaan sebagian orang untuk membuat resolusi yang akan dilaksanakan di bulan Januari hingga selusin candra selanjutnya. Meski terkadang sebagian di antara yang membuat resolusi itu ada yang benar-benar komitmen meraihnya, ada pula yang berakhir sebatas wacana tanpa usaha meraihnya sedikit pun. Bahkan ada yang menuliskan resolusi tahun depan yaitu melaksanakan resolusi tahun sebelumnya. Hmm.. Tak apa, setidaknya kita sudah menuliskan harapan-harapan yang akan kita capai dan semoga menjadi sebuah doa. Namun bagi yang tidak menuliskan sebuah resolusi, bukan berarti ia tidak memiliki harapan, karena sebagai manusia, saya yakin, setiap orang pasti memiliki segudang keinginan yang ingin diraih.

Resolusi, ia tak akan terpisah dari sebuah evaluasi. Kita akan menentukan sebuah resolusi manakala kita telah mengevaluasi apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Apakah telah sesuai perencanaan, ataukah melenceng dari apa yang telah diharapkan, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan hal itu terjadi, hingga kita dapat menentukan langkah apa yang akan dijalani selanjutnya.

Evaluasi atau menghisab diri, tak harus menumpukkan hingga penghujung pergantian tahun dalam kalender. Namun, tak apa… Setidaknya kita telah mencoba untuk menghisab diri. Jika kita tengok sedikit saja kehidupan salah satu sahabat, salah satu khalifah islam, Umar bin Khattab, beliau tidak akan terlelap sebelum segala urusannya selesai, sebelum selesai melakukan hisab atas dirinya. Lantas kita, sudahkah kita meneladaninya? Bukankah setiap hari waktu senantiasa berganti? Jujur saya sendiri pun masih belum konsisten untuk melakukan hisab sebelum tertidur, terlebih ketika kondisi tubuh sedang lelah, ngantuk sudah bersiap mengambil alih kondisi terjaga. Padahal bisa saja, itu adalah hari terakhir kita bukan? Lalu, jejak seperti apa yang telah kita pahat pada semesta selama kita melangkahkan kaki di buminya?

Tentang memahat jejak…

Kita berjelajah sedikit ke masa lalu, minimal dalam 365 hari yang baru saja kita lalui. Saya yakin, banyak hal yang telah kita alami. Banyak cerita yang sudah kita rangkai. Apakah kisah-kisah yang telah kita tuliskan dalam hidup kita layak untuk kita baca kembali dengan “bangga”? Ataukah cukup disimpan bahkan dikubur dalam-dalam segingga rasa malu yang menggunung tak dapat terlihat makhluk lainnya?

Setiap ayunan langkah yang kita pijakkan pada tanah, akan meninggalkan jejak sehalus apapun. Bumi akan tetap merekamnya meski netra sudah tak mampu memotretnya. Baik dan buruknya akan terangkum menjadi bukti bahkan menjadi saksi. Kita sebut saja salah satu contoh. Seseorang yang menurut saya telah meninggalkan jejak fenomenal yaitu Muhammad Al-Fatih. Ia telah menaklukan Konstantinopel sebagai prasasti yang dia pahat sebagai jejak hidupnya bahkan di usianya yang belia. Lantas kita, karya apakah yang telah menjadi monumen untuk kita kenang di usia kita yang telah sebanyak ini?

Memahat jejak dengan karya. Berkarya sesuai potensi yang kita miliki. Jangan pernah mengatakan bahwa kita tak bisa apa-apa. Karena Dia telah memberikan potensi yang tak terbatas. Hanya pikiran kita yang membangun sekat dan menjadikannya terbatas. kita telah menemui atau hanya sekedar mendengar bahwa ada banyak orang-orang yang terlahir dengan ketidaksempurnaan fisik namun memiliki karya yang berderet. Tidakkah itu cukup menjadikan contoh bahwa Dia Maha Adil yang menganugerahkan beragam potensi pada manusia? Jika belum percaya, silakan bisa cari di mbah google. 😁

Maka, selamat memahat jejak yang baik. Jejak yang akan menjadi petunjuk bagi generasi penerus kita. Karena sebuah ayat dalam al Quran mengatakan “janganlah kamu meninggalkan generasi yang lemah di belakangmu…”, sehingga bagaimana jejak-jejak kita menjadi teladan bagi mereka.

Hidup hanya sekali, jangan menua tak berarti

Wallahu’alam…


*edisi menghisab diri sendiri sambil menunggu jemputan, karena sibiru ngadat lagi 😁

32| Lewat Jenuh

Dulu waktu masih berstatus pelajar di salah satu SMK Kimia, larutan dan kelarutan menjadi teman setiap keseharian. Solvasi atau kelarutan adalah proses dimana ion dan molekul dikelilingi oleh molekul pelarut yang memiliki susunan tertentu. Faktor yang dapat mempengaruhi solvasi adalah sifat suatu zat, baik zat terlarut maupun pelarutnya.

Larutan adalah campuran homogen (komposisi sama), tidak ada bidang batas antara zat pelarut dengan zat terlarut. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sementara proses pencampuran kedua zat tersebut disebut pelarutan atau solvasi. Berdasarkan komposisinya larutan akan membentuk tiga jenis larutan, yaitu :

  1. Larutan jenuh, dimana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat, atau zat terlarut telah maksimum pada suhu tertentu.
  2. Larutan hampir jenuh atau tidak jenuh, yaitu larutan denngan zat terlarut dalam konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperature tertentu.
  3. Larutan lewat jenuh, yaitu ketika suatu larutan mengandung zat terlarut dalam konsentrasi yang lebih banyak daripada yang seharusnya.

Air sering disebut sebagai pelarut universal serta termasuk pelarut yang kuat. Ia dapat melarutkan banyak jenis zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat atau tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik menarik listrik antara molekul air. Kemudian, air akan membentuk ikatan hidrogen dengan ion atau dengan senyawa non ionik.

Anggaplah kita ini seperti air yang memiliki kemampuan “melarutkan” berbagai hal yang masuk dalam kehidupan kita. Seperti pekerjaan misalnya, atau tugas kuliah, hubungan pertemanan atau hal-hal lainnya. Setiap hal tersebut akan membentuk sebuah ikatan sebagaimana pelarut dan zat terlarutnya hingga menjadi sebuah larutan yang homogen. Namun, sebagaimana larutan, pada proses solvasi akan mengakibatkan tiga kondisi, ketika konsentrasinya tak sama. Dan dalam aktivitas sehari-hari, kita pun sering mengalami ketiga kondisi tersebut, bahkan tak jarang kita mengalami kondisi lewat jenuh.

Lalu mengapa kita merasa bosan atau jenuh?

Rasa bosan atau jenuh, sepertinya sudah menjadi “makan”sehari-hari bagi umat manusia, terutama di era modern seperti sekarang ini. Banyak kegiatan yang menjadi relatif lebih mudah untuk dilakukan. Terkadang mengobrol dengan orang yang berada di kamar sebelah pun kini tinggal menggunakan aplikasi chat yang pilihannya beragam.

Namun terlepas dari itu, ada beberapa penyebab mengapa kita merasa bosan. Salah satunya karena mungkin kita sendiri belum tahu apa yang benar-benar ingin kita lakukan. Jika berbicara tentang potensi atau kemampuan, bisa jadi kita memang mampu mengerjakan hal itu, tapi ternyata bisa saja tidak cukup untuk melepaskan diri dari rasa bosan. Ada sebuah artikel yang mengatakan “jangan melakukan sesuatu hanya karena kamu bisa, tapi lakukan ketika kamu ingin melakukan”.

Motivasi. Yups, motivasi adalah dasar dari aktivitas yang kita jalani. Apa yang kita inginkan, serta untuk apa kita melakukan hal tersebut. Motivasi yang akan mendorong kita untuk melangkah, bahkan dikondisi terlemah sekalipun. Bahkan, motivasi yang menjadikan apakah aktivitas kita “tak ternilai” atau “tak bernilai”.

Inna a’malu binniyat. Setiap perbuatan itu tergantung dari niatnya. Maka, ketika kita berada dalam kondisi bosan atau jenuh dalam melakukan sesuatu, yang dapat pertama kali kita lakukan adalah memeriksa kembali niat kita. Mungkin, bisa jadi kita melakukan sesuatu hanya karena ingin membuat orang lain merasa terkesan. Sehingga kita sibuk menjadi orang lain, yang pada akhirnya, cepat atau lambat kita akan merasa lelah.

Menurut sebuah artikel, beberapa hal yang membuat kita bosan diantaranya karena kita terus menerus melakukan hal yang sama dalam jangka waktu yang panjang. Setiap hari kita akan mengawalinya dengan sebuah ungkapan “paling sekarang…”sehingga tidak ada lagi kejutan atau tantangan. Dan salah satu hal dari beberapa lainnya adalah karena kita hanya memikirkan masa depan diri sendiri, maka katanya, mulailah memikirkan orang lain. Hal ini tentu berbeda dengan “menjadi orang lain” yang disebutkan sebelumnya.

Dari hasil membaca beberapa artikel, sebenarnya masih banyak hal-hal yang dapat membuat kita bosan dan beberapa alternatif menghilangkannya. Namun, menurut saya beberapa yang disebutkan tadi menjadi hal yang mendasarinya.

Manusia memiliki potensi yang tak terbatas, terkadang akal kita yang membatasinya. Mata kita mungkin memiliki jarak pandang yang terbatas, namun hati kita dapat melihat sesuatu yang lebih luas.

Jika masih merasa jenuh, keluarlah. Lihatlah semesta, pandanglah sekitar. Kemudian, bersyukurlah… 😁😉

Wallahuálam

[]

*edisi curhat kesekian kalinya dalam pekan ini

*melepaskan diri dari kejenuhan mengerjakan layout naskah yang beberapa hari ini belum selesai 😀