Keping – 104 | Semesta #day27

Lokasi : Bukit Moko, Bandung

Entah sejak kapan aku memutuskan untuk jatuh cinta pada semesta. Ia selalu mampu mengikis kemasygulan yang bercokol di dalam hati. Cukup dengan menyaksikan arunika yang perlahan meninggi, menukar malam dengan benderang. Atau menatap swastamita yang merona menjelang petang, mengganti warna langit kembali menjadi pekat. Keduanya seolah berhasil menaburkan serbuk “baking powder” di sudut bibirku, menjadikannya senyuman yang merekah sempurna di wajahku.

Semesta juga selalu sanggup mengubur rasa gamang yang menyelimuti diri. Cukup dengan menonton taburan gemintang yang memberi warna pada gulita. Atau dengan menatap sabit yang melengkung di cakrawala. Atau dengan melihat purnama bulat sempurna, penuh cahaya. Dengan begitu saja, ia sudah berhasil seperti larutan pembersih kaca. Dalam sekejap menjadikan cara pandangku kembali berandang.

Semesta tak pernah bosan mengajakku bersenandika. Melaungkan kata-kata hanya dalam diam. Menikmati gemerisik bayu yang merisak kesunyian. Namun rasanya bagaikan nyanyian dengan simfoni paling indah. Menjadi obat mangkus untuk menentramkan kembali pikiran yang penuh hingar bingar.

Dan semesta juga selalu berhasil mengajak kita kembali menyelisik ke dalam hati. Seketika air mata rebas menghujani kedua pipi, kala mengingat bahwa diri selalu merasa nirmala namun nyatanya candala. Terlalu banyak meracau namun tidak berdaya guna, atau bahkan hingga menyakiti sesama?

Wahai Allah, akankah Engkau memaafkan aku yang datang kepada-Mu dengan keadaan lunyai, padahal Engkau telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sani?

Andai kita tak lagi ‘menganiaya diri’, bukankah Dia Maha Pengampun?

Keping – 103|Belajar Mendengar #day26

Mendengarkan. Aktivitas yang melibatkan kedua rungu ini terlihat mudah, namun banyak pula di antara kita yang belum mampu melakukannya dengan baik. Bahkan banyak pula di antara orang-orang yang ku kenal lebih suka menghambur-hamburkan kata yang tak penting dibandingkan mendengar.

Kita pasti pernah mendengar alasan Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut, bukan? Ya, katanya agar kita lebih banyak mendengar dibandingkan berbicara. Kita mendengarkan bukan karena kita ingin mendengar, tapi karena memang kita harus mendengarkan.

Banyak orang-orang yang hanya mau mendengar hal-hal yang diinginkannya saja, lalu mengabaikan apa yang seharusnya menggetarkan gendang telinganya. Banyak yang membuka telinganya hanya untuk sesuatu yang menyenangkannya walaupun berisi sebuah kebohongan, kemudian menyumbatnya rapat-rapat apa yang tak sesuai dengan inginnya meskipun yang disampaikannya adalah sebuah kebenaran.

Belajar mendengarkan memang tak mudah ternyata. Dibutuhkan hati yang lapang untuk menampung ratusan diksi yang dilontarkan kedua bibir orang lain. Menyerap informasi yang penting, bahkan jika hanya terselip di antara hal-hal yang tak penting. Memilah rentetan kalimat yang harus ditelan, dan melepehkan deretan kata yang tak layak dikonsumsi.

Belajar bertahan mendengarkan, hingga pembicara menutup kalimatnya. Memberikan tanda baca di penghujung ucapannya. Menikam ego untuk segera memenggal kata yang sedang dia sampaikan. Menahan nafsu untuk segera berganti peran agar dapat menghujaninya dengan aksara-aksara yang kita punya.

Belajar untuk diam. Karena terkadang yang dibutuhkan hanyalah jiwa yang mampu mendengarkan dengan sepenuh hati.