56 | Sepotong Senja

Sepotong senja membawa jejak-jejak yang telah diukir sejak fajar untuk kembali pulang. Memahat cerita yang kelak akan dikisahkan di depan seluruh penghuni semesta.

Seketika, hati bersenandika seraya menyelia pada laku
Akankah dia terpukau pada kisah yang telah diperankan diri selama durasi yang diberikan?
Ataukah dia akan kecewa menyaksikan jiwa yang mengaku nirmala, nyatanya penuh dengan cela?

Sepotong senja, bagai dentangan genta. Pengingat bahwa masa akan berhenti tanpa berkata-kata.

Sebuah gumaman jiwa yang terekam akal
Di suatu persimpangan antara siang dan malam
ReinaKhansa

Advertisements

55| [Masih] Tentangmu

Kamu
Satu paragraf narasi yang selalu kuaamiinkan dengan sungguh
Sebaris alasan yang mampu mengukir sabit dalam raut yang sedang muram
Sepotong mimpi yang kusemogakan dengan lirih

Tapi,
Kamu juga sebatang tanya yang belum sempat bertemu jawab

Bandung, 16 Juni 2019

ReinaKhansa

53 | Maafkanlah…

Hati…
Mungkin ia masih penuh dengan luka yang mengendap, memadat menyumbat sebuah senyuman
Mungkin ia masih sarat dengan kecewa yang pekat, berkarat mengeroposkan ikatan…

Maafkanlah..
Biarkan segala luka ikut tenggelam bersama senja yang menjemput detik terakhir Ramadhan

Maafkanlah, biarkan segala kecewa menyublim karna fajar Syawal yang mulai terbit
Menghangatkan bilik-bilik hati yang sempat membeku
Mendetakkan kembali jiwa-jiwa yang pernah mati

Ramadhan, telah berlalu…
Syawal mulai menjelang…
Taqobalallahu minna wa minkum…
Karena takwa bukan sekedar kata,
Namun bagaimana taat dan tunduk padaNya dengan nyata…


Kepada seluruh teman-teman, mohon maaf lahir batin apabila ada tulisan-tulisan atau komentar-komentar yang menyinggung perasaan teman-teman… 😊🙏

52 | Pulang Kampung

Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, sebagian masyarakat mulai disibukkan dengan persiapan untuk mudik ke kampung halaman. Mulai dari mencari tiket transportasi hingga buah tangan yang akan menjadi buruan keluarga saat batang hidung kita telah samar-samar terlihat di sekitar tanah kelahiran.

Mudik di penghunjung Ramadhan merupakan momen yang paling ditunggu sebagian orang yang hampir seluruh harinya dihabiskan di tanah perantauan. Merayakan hari kemenangan di tempat kelahiran bersama sanak saudara merupakan sebuah episode yang sangat jarang terjadi. Hingga segala usaha akan dilakukan untuk dapat bercengkrama bersama keluarga. Rela mengorbankan beberapa jam lebih lama dari waktu tempuh seharusnya demi dapat menjejak kembali dengan selamat daerah asal.

Begitu antusiasnya kita menyambut hari itu. Bersiap membagi cerita tersusun dari kepingan-kepingan kisah yang telah dikumpulkan selama beberapa waktu, pada berpasang-pasang telinga siap menyimak dengan mata berbinar seolah mereka yang sedang memerankan cerita itu. ya, mungkin itulah salah satu yang kita rindukan dari sebuah kata bernama mudik.

Namun, tidak rindukah kita pada kampung halaman kita yang sesunguhnya?? Tidak bersemangatkah kita suatu hari nanti berkumpul kembali dengan “saudara-saudara” kita untuk bertukar sebuah sejarah? Ataukah kita lupa di mana sesungguhnya kampung kita yang berhalaman? Mungkin kita sedikit tidak ingat dengan tempat asal kita sesungguhnya, sehingga tidak mempersiapkan “oleh-oleh” atau perbekalan menghadapi kemacetannya agar selamat sampai tujuan.

Masih belum ingat??

“Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepadaNya kami kembali” [2 : 156]

Dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Tempat merantau mengumpulkan bekal untuk kelak kembali pada kampung halaman yang sebenarnya. Akhirat. Mau atau tidak mau, suka ataupun tidak suka, siap atau tidak siap, kita pasti akan kembali. Bahkan disadari ataupun tidak disadari sebenarnya masing-masing kaki kita sedang menempuh perjalanan menuju kepadanya.

Lantas, sudahkah kita mengumpulkan bekal untuk hidup selamanya di sana? Atau kita justru terlena dengan keindahan “jalanan” hingga akhirnya lupa dengan tujuan sebenarnya?

Bandung, 27 Mei 2019

-ReinaKhansa

51|Merekam Rasa, Mengeja Makna

Rasanya ingin mengatakan “selamat datang kembali” pada diri saya sendiri setelah dua bulan terakhir ini tidak mengunjungi ruang ini. Ada sebuah kerinduan tersendiri yang harus dituntaskan. Dan cara satu-satunya adalah dengan “memaksakan”diri untuk “kembali”.

Kali ini saya hanya ingin bercerita, menuangkan beraneka rasa yang sempat hadir dalam beberapa episode kemarin. Mulai dari si biru – motor kesayangan yang selalu menemani kemanapun pergi – yang sedang dalam mode ngambeknya hingga handpone yang tak dapat hidup kembali. Dari berderetnya pekerjaan dan kegiatan lainnya hingga berakhir dengan drama raga yang menyerah untuk melayani jiwa. Namun dari kesekian kisah tersebut, banyak sekali makna yang dapat saya eja. Banyak rasa yang juga dapat direkam oleh memori.

Dulu, ada yang pernah mengatakan bahwa jika seseorang mengatakan dirinya sibuk, apalagi pernyataannya berupa status di sosial media, berarti sebenarnya dia tidak begitu sibuk. Maka, saya untuk kepadatan aktifitas yang saya lalui dari dua bulan lalu hingga hari ini sepertinya belum masuk dalam kategori “sibuk”, karena untuk beberapa waktu saya memang sempat meluangkan waktu untuk sekedar mengintip akun sosmed.

Memasuki tahun 2019 hingga hari ini merupakan salah satu garis waktu yang dilalui dengan langkah yang harus sedikit terseret. Tentu saja banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun sekali lagi, akhirnya banyak juga hikmah yang dapat saya pungut dalam perjalanan itu.

Pertama, ketika si biru yang tidak dapat menemani selama beberapa minggu. Cukup mempengaruhi. Terlebih di saat yang sama, akses jalan yang biasa dilalui sehari-hari pun tidak dapat digunakan karena banjir. Tidak sehari dua hari, tetapi hingga satu minggu. Menggunakan motor saja, waktu yang dihabiskan untuk menempuh perjalanan bisa sampai dua kali lipat, apalagi menggunakan kendaraan umum. Ditambah lagi letak rumah saya yang hanya dilalui satu kendaraan umum, itu pun tidak sesuai dengan jalur aktifitas. Maka, cara tercepat agar tidak telat sampai di sekolah adalah berjalan kaki 2 km baru disambung angkutan umum dan bis kota.

Sebenarnya, dulu semasa sekolah hal itu sudah biasa saya lakukan. Namun, ketika beberapa tahun terakhir mulai menggunakan motor, akhirnya hal itu kembali menjadi sesuatu yang berat untuk dilakukan. Memang, belum seberapa jika kita bandingkan dengan orang-orang yang berada di daerah-daerah. Mereka bahkan harus melewati jembatan bambu atau jembatan tali di atas sungai yang arusnya pun deras. Belum lagi mereka harus berjalan dengan jarak tempuh yang lebih jauh lagi. Dengan segala kemudahan yang kita dapatkan, kadang kitapun lupa untuk bersyukur. Bahkan seringkali banyak mengeluh dan mudah menyerah ketika baru menemui sedikit kendala.

Menggunakan kendaraan umum (angkot dan bus kota) dalam beberapa hari itu juga membuat saya kembali belajar membaca. Membaca lingkungan. Diingatkan kembali tentang “manusia adalah makhluk sosial”dengan berbagai konsekuensinya.

Dalam perjalanan menggunakan kendaraan umum, kita tentu akan bertemu dengan banyak orang dengan segala karakter yang juga melekat membentuk dirinya. Hingga beberapa hari itu menjadi sebuah ajang perenungan. Saat saya masuk ke dalam bis (di tengah perjalanan), refleks mata saya berkeliling, selain mencari bangku kosong yang dapat diduduki, juga memindai keadaan yang terpotret di sana. Dulu, semasa SMA sekitar tahun 2005-2007an, pemandangan yang didapatkan di dalam bis adalah orang yang mengobrol dengan yang di sampingnya baik yang sudah saling mengenal maupun yang berkenalan dalam perjalanan, yang tertidur, atau yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Sedangkan beberapa waktu kemarin, pemandangan yang sering kali terlihat adalah “generasi menunduk”. Sebagian besar yang ada di dalamnya sedang memegang handphonenya dan sibuk mengobrol dengan seseorang yang jauh di sana. Bahkan ada salah satu di antaranya yang sedang melakukan video call. Memang, masih ada yang tertidur atau mengobrol, namun di antara yang mengobrolpun, masih diselingi percakapan melalui handphonenya. Hanya beberapa saja yang terlihat menikmati perjalanan tanpa gadgetnya.

Saya juga jadi teringat masa-masa dulu ketika setiap hari menggunakan bis. Di sana menjadi tempat saya berkenalan dengan beberapa orang. Bahkan ada yang berkahir menjadi teman. Dan bis bisa jadi tempat saya belajar, bahkan berdiskusi tentang banyak hal. Tema obrolan yang paling saya ingat hingga saat ini adalah menghitung polusi udara di perempatan jalanan kota Bandung, bersama seorang anak mahasiswa Teknik lingkungan (lupa nama kampusnya). Diskusi yang terjadi dalam perjalanan menuju tempat PKL sewaktu SMK.

Dan sepertinya waktu telah menggeser makna banyak hal, merubah banyak rasa. Sehingga kadang kitapun salah memberi arti.

[]

Bersambung…

50|Memungut Petunjuk

Loc : Taman Ganesha ITB

Jalanan ini lurus meski kadang ada persimpangan
Kita berdiri di sini, di satu sisinya
Kita berjalan menuju ke sana, ke sisi yang lainnya

Melangkah
memungut petunjuk yang ditinggalkan para pendahulu
Menoreh jejak untuk yang datang belakangan..

Berjalan
Mengumpulkan hikmah yang terserak dari para penebar berkah
Mengukir sejarah untuk menjadi hikmah para pencari arah

^^

[]

Sekedar untuk membersihkan jaring laba-laba🙊